Pages

Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2009

Tingkatan-Tingkatan Qadar : Al-Ilmu, Al-Kitaabah

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd



Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:

1. Al-‘Ilm (ilmu).
2. Al-Kitaabah (pencatatan).
3. Al-Masyii-ah (kehendak).
4. Al-Khalq (penciptaan).

Sebagian penya’ir menyenandungkannya dengan ucapannya:
Ilmu, catatan Pelindung kita, Kehendak-Nya
dan penciptaan-Nya, yaitu mengadakan dan membentuk

Tingkatan Pertama: Al-‘Ilm (Ilmu).
Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci, azali (sejak dahulu) dan abadi, baik hal itu berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya maupun perbuatan-perbuatan para hamba-Nya, sebab ilmu-Nya meliputi apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi yang seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.

Dia mengetahui yang ada, yang tidak ada, yang mungkin, serta yang mustahil, dan tidak luput dari ilmu-Nya seberat dzarrah pun di langit dan di bumi.

Dia mengetahui semua ciptaan-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Dia mengetahui rizki, ajal, ucapan, perbuatan, maupun semua gerak dan diam mereka, juga siapakah ahli Surga ataupun ahli Neraka.

Tingkatan ini -yaitu ilmu yang terdahulu- disepakati oleh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga yang terakhir, disepakati juga oleh semua Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari umat ini. Tetapi “Majusi” umat ini menyelisihi mereka, yaitu Qadariyyah yang amat fanatik.[2]

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak sekali, di antaranya firman Allah Azza wa Jalla

"Dia-lah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata … ." [Al-Hasyr: 22]

Firman-Nya yang lain:

"…Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka… ." [Al-Baqarah: 255]

Juga firman Allah yang lain:

"…(Rabb-ku) Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang ter-sembunyi dari-Nya seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [Saba': 3]

Dan firman Allah:

"… Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan… ." [Al-An’aam: 124]

Juga firman-Nya:

"Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [Al-Qalam : 7]

Serta firman-Nya:

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [Al-An’aam: 59]

Dan firman Allah yang lain:

"Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kepadamu selain dari kerusakan belaka… ." [At-Taubah: 47]

Juga firman-Nya:

"… Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka." [Al-An’am: 28]

Serta firman-Nya:

"Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." [Al-Anfaal: 23]

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahiihnya dari Ibnu ‘Abbas
Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keadaan anak-anak kaum musyrikin, maka beliau menjawab:
Çó “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan.” [3]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satu jiwa pun dari kalian melainkan telah diketahui tempat tinggalnya, baik di Surga maupun Neraka.” [4]

Tingkatan Kedua: Al-Kitaabah (Penulisan).
Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat apa yang telah diketahui-Nya dari ketentuan-ketentuan para makhluk hingga hari Kiamat dalam al-Lauhul Mahfuzh.

Para Sahabat, Tabi’in, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Hadits sepakat bahwa segala yang terjadi hingga hari Kiamat telah dituliskan dalam Ummul Kitab, yang dinamakan juga al-Lauhul Mahfuzh, adz-Dzikr, al-Imaamul Mubiin, dan al-Kitaabul Mubiin, semuanya mempunyai makna yang sama.[5]

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak, baik dari al-Qur-an maupun as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." [Al-Hajj: 70]

Firman Allah yang lain:

"…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [Yaasiin: 12]

Juga firman-Nya:

"Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’" [At-Taubah: 51]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang do’a Nabi Musa Alaihissalam:
"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia … ." [Al-A’raaf: 156]

Dia berfirman tentang bantahan Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir’aun:

"Berkata Fir'aun, ‘Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di dalam sebuah kitab, Rabb-ku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa… .’" [Thaahaa: 51-52]

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam Shahiihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.
‘Allah mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” [6]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satu jiwa pun yang bernafas melainkan Allah telah menentukan tempatnya, baik di Surga ataupun di Neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagia(nya).” [7]

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Footenotes
[1].Lihat, al-‘Aqiidah al-Waashithiyyah dengan penjelasannya, ar-Raudhah an-Naadiyyah, Syaikh Zaid bin Fayyadh, hal. 353, at-Tanbihaat al-Lathiifah ‘ala mahtawaat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Waashithiyyah minal Mabaahits al-Muniifah, Syaikh Ibnu Sa’di disertai komentar Samahah Syaikh Ibnu Baz, hal. 75-80. Lihat pula, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 61-116, Ma’aarijul Qabuul, Syaikh Hafizh al-Hakami, (II/225-238), A’laamus Sunnah al-Mansyuurah, al-Hakami, hal. 126-129, Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37, Taqriibut Tadmuriyyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 108-109, al-Qadhaa' wal Qadar, Dr. Sulaiman al-Asyqar, hal. 29-36, Syarh al-‘Aqiidah al-Waasithiyyah, Syaikh Shalih al-Fauzan, hal. 150-156, dan Khulaashah Mu’taqad Ahlis Sunnah, Syaikh ‘Abdillah bin Sulaiman al-Masy’ali, hal. 29-30.
[2]. Lihat, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 61.
[3]. HR. Al-Bukhari ,(VII/210) dan lihat, al-Fat-h, (XI/493).
[4]. HR. Muslim dalam al-Qadr, (no. 2647).
[5]. Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 89
[6]. HR. Muslim, (VIII/51).
[7]. HR. Al-Bukhari dalam at-Tafsiir, (VI/84) dan Muslim dalam al-Qadar, (VIII/ 46-47).


ARSIP ARTIKEL
TAUHID
MUSLI
Baca Selengkapnya ......

Tingkatan-Tingkatan Qadar : Al-Masyii-ah, Al-Khalq

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:

1. Al-‘Ilm (ilmu).
2. Al-Kitaabah (pencatatan).
3. Al-Masyii-ah (kehendak).
4. Al-Khalq (penciptaan).

Sebagian penya’ir menyenandungkannya dengan ucapannya:
Ilmu, catatan Pelindung kita, Kehendak-Nya
dan penciptaan-Nya, yaitu mengadakan dan membentuk

Tingkatan Ketiga: Al-Masyii-ah (Kehendak).
Tingkatan ini mengharuskan keimanan kepada masyii-ah Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan bahwa tidak ada gerak dan diam, hidayah dan kesesatan, melainkan dengan masyii-ah-Nya.

“Tingkatan ini ditunjukkan oleh Ijma’ (kesepakatan) para Rasul, sejak Rasul pertama hingga terakhir, semua kitab yang diturunkan dari sisi-Nya, fitrah yang padanya Allah menciptakan makhluk-Nya, serta dalil-dalil akal dan logika.” [1]

Nash-nash yang menunjukkan dasar ini sangat banyak sekali dari al-Qur-an dan as-Sunnah, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya… ." [Al-Qashash: 68]

Firman Allah yang lain:

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." [At-Takwiir: 29]

Dan firman Allah:

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah… .’" [Al-Kahfi: 23-24]

Juga firman-Nya:

"Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki… ." [Al-An’aam: 111]

Serta firman-Nya:

"…Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus." [Al-An’aam: 39]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia semuanya berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya ke mana saja Ia kehendaki.” [2]

Masyii-ah (kehendak) Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna berhimpun dalam apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta berpisah dalam apa yang tidak akan terjadi dan sesuatu yang tidak ada. Apa yang dikehendaki Allah adanya, maka ia pasti ada dengan kekuasaan-Nya, dan apa yang tidak di-kehendaki adanya maka ia pasti tidak ada, karena Dia tidak meng-hendaki hal itu. Bukan karena ketidakadaan kekuasaan-Nya atas hal itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"…Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling mem-bunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." [Al-Baqarah: 253]

Maka, tidak berperangnya mereka bukanlah menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak ada (untuk mengadakan hal itu), akan tetapi karena Allah tidak menghendakinya, dan hal serupa bisa dilihat dalam firman Allah Ta’ala:

"…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk … ." [Al-An’aam: 35]

Firman Allah yang lain:

"Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-sekutukan(-Nya)… ." [Al-An’aam: 107]

Juga firman-Nya:

"Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya… ." [Yunus: 99] [3]

Tingkatan Keempat: Al-Khalq (Penciptaan)
Tingkatan ini mengharuskan keimanan bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah, dengan dzat, sifat, dan gerakannya, dan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang diadakan dari ketidakadaan, ada setelah sebelumnya tidak ada.

Tingkatan ini ditunjukkan oleh kitab-kitab samawi, disepakati para Rasul, disetujui fitrah yang lurus, serta akal yang sehat. [4] Dalil-dalil mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Allah Yang menciptakan segala sesuatu… ." [Az-Zumar: 62]

Firman Allah yang lain:

"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang … ." [Al-An’aam: 1]

Dan firman-Nya:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa-kah di antaramu yang terbaik amalnya… ." [Al-Mulk: 2]

Serta firman Allah:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari yang satu, dan daripadanya Allah mencip-takan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak… ." [An-Nisaa': 1]

Juga firman Allah:

"Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." [Al-Anbiyaa': 33]

Dan firman-Nya:

"…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… ." [Faathir: 3]

Imam Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Khalq Af’aalil ‘Ibaad dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang ber-buat dan juga sekaligus perbuatannya.” [5]

Inilah empat tingkatan qadar, yang mana keimanan kepada qadar tidak sempurna kecuali dengannya.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Footenotes
[1]. Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 92.
[2]. HR. Muslim, (no. 2654).
[3]. Lihat, ash-Shafadiyyah, Ibnu Taimiyyah, (II/109).
[4]. Lihat, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 108.
[5]. Khalq Af’aalil ‘Ibaad, hal. 25.
Baca Selengkapnya ......

Tingkatan Qadha' Dan Qadar

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah qadha' dan qadar mempunyai empat tingkatan:

Pertama
Al-'Ilm (pengetahuan), yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah Mahatahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terinci, baik itu termasuk perbuatanNya sendiri atau perbuatan makhlukNya. Tak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya.

Kedua
Al-Kitabah (penulisan), yaitu mengimani bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh yang ada disisiNya.

Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

"Artinya ; Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." [Al-Hajj : 70]

Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian tertulis dalam sebuah ktiab, yaitu Lauh Mahfuzh.

Sebagaimana pula dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dalam sabdanya:

"Artinya : Pertama kali tatkala Allah menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya, 'Tulislah!' Qalam itu berkata, 'Ya Tuhanku, apakah yang hendak kutulis?' Allah berfirman, "Tulislah apa saja yang akan terjadi!' Maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala yang akan terjadi hinggahari Kiamat."

Ketika Nabi shalallahu 'alaihi wassalam ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau tidak? Beliau menjawab: "Sudah ditetapkan."

Dan ketika beliau ditanya: "Mengapa kita mesti berusaha dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis?", beliau pun menjawab: "Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya." Kemudian beliau mensitir firman Allah:

"Artinya ; Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar." [Al-Lail 5-10]

Oleh karena itu, hendaklah Anda berusaha, sebagaimana yang diperintahkan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam kepada para sahabat. Anda akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah.

Ketiga
Al-Masyi'ah (kehendak). Artinya, bahwa segala sesuatu yang terjadi, atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan kehendak Allah. Hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur'an Al-Karim. Dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuatNya adalah dengan kehendakNya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan kehendakNya.

Firman Allah:

"Artinya : (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam." [At-Takwir : 28-29]

"Artinya : Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya." [Al-An'am : 112]

"Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya." [Al-Baqarah : 253]

Dalam ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa apa yang diperbuat manusia terjadi dengan kehendakNya.

Dan banyak pula ayat-ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendakNya. Seperti firman Allah:

"Artinya : Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya." [As-Sajdah : 13]

"Artinya : Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu." [Huud : 118]

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuatNya.

Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendakNya. Tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah.

Keempat
Al-Khalq (penciptaan). Yaitu, mengimani bahwa Allah Pencipta segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya tiada lain adalah Allah. Sampai yang dikatakan "mati" (tidak hidup), itupun diciptakan oleh Allah. Firman Allah:

"Artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." [Al-Mulk : 2]

Jadi, segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi PenciptaNya tiada lain adalah Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari perbuatan Allah adalah ciptaanNya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari bulan, bintang, angin, manusia, dan hewan, kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini, seperti: sifat, perubahan dan keadaan, itupun ciptaan Allah.

Akan tetapi mungkin saja ada orang yang sulit memahami, bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak
kita ini adalah ciptaan Allah?

Jawabnya: Ya memang demikian. Sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya 2 faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apabila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Allah. Dan Siapa yang menciptakan sebab, Dialah yang menciptakan akibatnya.

Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia, yaitu bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena 2 faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan berbuat. Karena andaikata dia menghendaki, tetapi tidak mampu, tidak akan ia perbuat. Begitu pula andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi perbuatan itu. Jika perbuatan manusia itu terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan sempurna, sedangkan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah, maka dengan cara ini dapat kita katakana bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia.

Akan tetapi, pada hakikatnya manusia yang berbuat. Manusialah yang bersuci, yang melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat kemaksiatan, yang berbuatan ketaatan; hanya saja semua perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh Allah. Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas.

Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai yang berbuata atau pelaku perbuatan.

Seperti halnya kita katakan: "Api membakar." Padahal yang menjadikannya dapat membakar tentu saja Allah. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya, sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya, tentu ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam dilemparkan ke dalam api akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau tidak mengalami cedera sedikitpun, karena Allah telah berfirman kepada api itu:

"Artinya : Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." [Al-Anbiya' : 69]

Sehingga Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak terbakar, bahkan tetap dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Jadi, api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikannya mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan dalam diri manusia untuk berbuat, tidak ada perbedaannya. Hanya saja, karena manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara hukum dan sebenarnya manusia dinyatakan sebagai yang berbuat. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri.

Penutup.
Sebagai penutup, kami katakan bahwa seorang mukmin harus ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, dan termasuk kesempurnaan ridhanya, yaitu mengimani bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara amal yang dikerjakan manusia, rizki yang dia usahakan, dan ajal yang dia khawatirkan. Kesemuanya adalah sama, sudah tertulis dan ditentukan. Dan setiap manusia dimudahkan menurut takdir yang ditentukan baginya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka yang dimudahkan untuk berbuat seperti orang-orang mendapat kebahagiaan dan melimpahkan kepada kita kebaikan dunia dan akhirat.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh shahabatnya.

[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]
Baca Selengkapnya ......

Hukum Membicarakan Permasalahan Qadar

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd



Sebelum membicarakan secara terperinci tentang qadha' dan qadar, ada baiknya membicarakan mengenai masalah yang tersiar di masa dahulu dan di masa sekarang, yang intinya adalah bahwa tidak boleh membicarakan tentang masalah-masalah takdir secara mutlak. Alasannya bahwa hal itu dapat membangkitkan keraguan dan kebimbangan, dan bahwa masalah ini telah menggelincirkan banyak telapak kaki dan menyesatkan banyak pemahaman.

Pernyataan demikian, secara mutlak adalah tidak benar, hal itu dikarenakan beberapa alasan, di antaranya yaitu:

1. Iman kepada qadar adalah salah satu rukun iman. Iman seorang hamba tidak sempurna kecuali dengannya. Bagaimana hal ini akan diketahui, jika tidak dibicarakan dan dijelaskan perkaranya kepada manusia?

2. Iman kepada qadar telah disebutkan dalam hadits teragung dalam Islam, yaitu hadits Malaikat Jibril Alaihissalam, dan hal itu terjadi di akhir kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di akhir hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ÝóÅöäøóåõ ÌöÈúÑöíúáõ¡ ÃóÊóÇßõãú íõÚóáøöãõßõãú Ïöíúäóßõãú.

“Dia adalah Malaikat Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”[1]

Maka mengetahui masalah takdir -dengan demikian- adalah termasuk bagian dari agama, dan pengetahuan tersebut adalah wajib, walaupun hanya secara global.

3. Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang takdir dan perin-ciannya. Allah Azza wa Jalla pun telah memerintahkan kita agar merenungkan al-Qur’an dan memahaminya, sebagaimana firman-Nya:

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya … ." [Shaad : 29]

Juga firman-Nya:

"Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur-an ataukah hati mereka terkunci." [Muhammad: 24]

Lalu, apakah yang mengecualikan ayat-ayat yang membicarakan tentang masalah takdir dari keumuman ayat-ayat tersebut?!

4. Para Sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara yang paling detil mengenai takdir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir dalam Shahiih Muslim, ketika Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang agama kami, seolah-olah kami baru diciptakan pada hari ini, yaitu mengenai amal perbuatan hari ini, apakah berdasarkan pada apa yang telah tertulis oleh tinta pena (takdir) yang sudah mengering dan takdir-takdir yang telah ditentukan, atau berdasarkan dengan apa yang akan kita hadapi?”

Beliau menjawab:

áÇó¡ Èóáú ÝöíúãóÇ ÌóÝøóÊú Èöåö ÇúáÃóÞúáÇóãõ¡ æóÌóÑóÊú Èöåö ÇáúãóÞóÇÏöíúÑõ.

“Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada.”

Ia bertanya, “Lalu, untuk apa kita beramal?”

Beliau menjawab:

ÇöÚúãóáõæúÇ! Ýóßõáøñ ãõíóÓøóÑñ.

“Beramallah! Sebab semuanya telah dimudahkan.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan:

ßõáøõ ÚóÇãöáò ãõíóÓøóÑñ áöÚóãóáöåö.

“Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk perbuatan-nya.”[2]

5. Para Sahabat mengajarkan kepada para murid mereka dari kalangan Tabi’in hal tersebut. Yaitu, dengan bertanya kepada mereka, untuk menguji mereka, dan menguji pemahaman mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Shahiih Muslim bahwa Abul Aswad ad-Duali berkata, “‘Imran bin al-Hushain berkata kepadaku, ‘Apakah kamu melihat apa yang dilakukan manusia pada hari ini dan mereka bersungguh-sungguh di dalamnya, apakah hal itu merupakan sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan telah berlaku atas mereka takdir sebelumnya? Ataukah sesuatu yang dihadapkan kepada mereka dari apa-apa yang dibawa kepada mereka oleh Nabi mereka dan hujjah telah nyata atas mereka?’

Saya menjawab, ‘Bahkan, hal itu merupakan sesuatu yang telah ditentukan atas mereka.’
Dia bertanya, ‘Bukankah itu suatu kezhaliman?’
Saya sangat terperanjat mendengar hal itu. Saya katakan, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan kepunyaan-Nya, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, tapi merekalah yang akan ditanya.’

Maka dia mengatakan kepadaku, ‘Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya aku tidak menginginkan dengan apa yang aku tanya-kan kepadamu, melainkan untuk menguji akalmu.’”[3]

6. Para imam Salafush Shalih dari kalangan ulama telah mengarang kitab tentang masalah ini, bahkan sangat perhatian mengenainya. Seandainya kita menyatakan larangan membicarakan tentang takdir, berarti kita telah menganggap mereka sesat dan menilai dungu akal mereka.

7. Seandainya kita tidak membicarakan tentang takdir, niscaya manusia tidak mengerti mengenainya. Dan mungkin pintu menjadi terbuka bagi ahli bid’ah dan ahli kesesatan untuk menyebarkan kebathilan mereka dan mencampuradukkan agama kaum muslimin.

8. Hilangnya ilmu dan kebajikan. Seandainya kita tidak membicarakan tentang takdir dan berbagai manfaatnya, niscaya kita kehilangan ilmu yang melimpah dan kebajikan yang banyak.

Jika ditanyakan: Bagaimana kita mengkompromikan antara hal ini dengan apa yang disebutkan tentang celaan membicarakan mengenai takdir, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang disebut-kan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu,

ÅöÐóÇ ÐõßöÑó ÃóÕúÍóÇÈöíú ÝóÃóãúÓößõæúÇ¡ æóÅöÐóÇ ÐõßöÑó ÇáäøõÌõæúãõ ÝóÃóãúÓößõæúÇ¡ æóÅöÐóÇ ÐõßöÑó ÇáúÞóÏóÑõ ÝóÃóãúÓößõæúÇ!

“Jika para Sahabatku dibicarakan, maka diamlah, jika bintang-bintang dibicarakan, maka diamlah, dan jika takdir dibicarakan, maka diamlah.”[4]

Demikian pula riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah sekali, ketika beliau keluar menemui para Sahabatnya pada suatu hari saat mereka sedang berdebat tentang masalah takdir, sehingga wajah beliau memerah, seolah-olah biji delima terbelah di keningnya, lalu beliau bersabda,

ÃóÈöåóÐóÇ ÃõãöÑúÊõãú¿ Ãóãú ÈöåóÐóÇ ÃõÑúÓöáúÊõ Åöáóíúßõãú¿ ÅöäøóãóÇ Ãóåúáóßó ãóäú ßóÇäó ÞóÈúáóßõãú Íöíúäó ÊóäóÇÒóÚõæúÇ Ýöíú åóÐóÇ ÇúáÃóãúÑö¡ ÚóÒóãúÊõ Úóáóíúßõãú ÃóáÇøó ÊóäóÇÒóÚõæúÇ Ýöíúåö.

“Apakah dengan ini kalian diperintahkan? Apakah dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah binasa ketika mereka berselisih mengenai perkara ini. Oleh karena itu, aku meminta kalian, janganlah berselisih mengenainya.”[5]

Jawaban mengenai hal itu: Bahwa larangan yang disebutkan tersebut adalah karena mengandung perkara-perkara berikut ini:

1. Membicarakan takdir dengan kebathilan serta dengan tanpa ilmu dan dalil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya... ." [Al-Israa': 36]

Dia pun berfirman tentang orang-orang yang berdosa:

"Artinya : Apakah yang memasukkanmu ke dalam Saqar (Neraka)? Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang menger-jakan shalat, tidak (pula) kami memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.’" [Al-Muddatstsir: 42-45]

2. Bersandar hanya kepada akal manusia yang terbatas dalam mengetahui takdir, jauh dari petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab, akal manusia tidak mampu mengetahui hal itu secara terperinci, karena akal mempunyai keterbatasan dan juga kemampuan yang terbatas, maka wajib bagi akal untuk berhenti pada dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih.[6]

3. Tidak pasrah dan tunduk kepada Allah dalam takdir-Nya. Hal itu karena takdir adalah perkara ghaib, yang mana perkara ghaib itu landasannya adalah kepasrahan.

4. Membahas tentang aspek yang tersembunyi mengenai takdir, yang mana ia merupakan rahasia Allah dalam ciptaan-Nya, dan (takdir tersebut) tidak diketahui oleh Malaikat yang didekatkan kepada Allah dan tidak pula oleh Nabi yang diutus, dan hal itu pun termasuk di antara perkara di mana akal tidak mampu untuk memahami dan mengetahuinya.[7]

5. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan yang tidak sepatutnya ditanyakan, seperti orang yang bertanya dengan nada protes: Mengapa Allah memberi petunjuk kepada si fulan dan menyesatkan si fulan? Mengapa Allah membebani (dengan kewajiban) kepada manusia di antara seluruh makhluk? Mengapa Allah memberi kekayaan kepada si fulan dan memberi kemiskinan kepada si fulan? Dan seterusnya…

Adapun orang yang bertanya untuk mendapatkan pemahaman, maka tidaklah mengapa, sebab obat kebodohan adalah bertanya. Adapun orang yang bertanya dengan nada protes -bukan untuk memahami dan tidak pula untuk belajar- maka itulah yang tidak boleh, baik pertanyaannya sedikit maupun banyak.[8]

6. Berbantah-bantahan mengenai takdir, yang menyebabkan perselisihan manusia di dalamnya dan terpecahnya mereka dalam masalah itu. Semua ini termasuk perkara yang kita dilarang melakukannya.

Tidak termasuk dalam kategori perbantahan yang tercela: membantah aliran yang sesat, menolak berbagai syubhat mereka, dan meruntuhkan berbagai argumentasi mereka, karena usaha tersebut berarti memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebathilan.

Dari sini nampak jelas bagi kita, bahwa larangan membicarakan tentang takdir secara mutlak adalah tidak benar, tetapi larangan tersebut berlaku untuk perkara-perkara yang telah disebutkan tadi.

Adapun pembahasan dalam perkara yang akal manusia mampu memahaminya, yang berlandaskan pada nash-nash, seperti membahas tentang tingkatan-tingkatan takdir, macam-macam takdir, kemakhlukan perbuatan hamba, dan pembahasan-pembahasan tentang takdir lainnya, maka semua ini telah dimudahkan lagi jelas, juga tidak dilarang untuk membahasnya. Kendatipun tidak semua orang mampu memahaminya secara terperinci, tetapi dalam permasalahan ini ada ulama yang mempelajarinya dan menjelaskan apa yang terdapat di dalamnya.

Di antara yang menegaskan hal itu -bahwa larangan tersebut bukanlah secara mutlak- yaitu telah disebutkan dalam hadits terdahulu, -yakni dalam hadits Ibnu Mas’ud,- di samping perintah untuk tidak membicarakan masalah takdir, ialah perintah untuk tidak membicarakan para Sahabat.

Maksud dari tidak membicarakan para Sahabat adalah, tidak membicarakan tentang apa yang diperselisihkan di antara mereka dan tidak membicarakan keburukan-keburukan mereka juga kekurangan-kekurangan mereka.

Adapun menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan memuji mereka, maka ini adalah perkara yang terpuji tanpa diperselisihkan oleh para ulama. Sebab, Allah telah memuji mereka dalam al-Qur’an, demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara yang menegaskan hal itu, bahwa sebab kemarahan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits terdahulu, -yaitu hadits at-Tir’midzi- hanyalah karena sebab berbantah-bantahannya para Sahabat dalam masalah takdir.

“Maka, membicarakan tentang takdir atau membahasnya dengan metode ilmiah yang shahih, tidaklah diharamkan atau dilarang. Te-tapi yang dilarang oleh Rasulullah n hanyalah berbantah-bantahan mengenai takdir.”[9]

Ringkasnya, dalam masalah ini, bahwa pembicaraan mengenai takdir tidak dibuka secara mutlak dan tidak pula ditutup secara mutlak. Jika pembicaraan tersebut dengan haq, maka tidak terlarang, bahkan mungkin wajib, adapun jika dengan kebathilan, maka dilarang.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. HR. Muslim, kitab al-Iimaan, (I/38 (8)).
[2]. HR. Muslim, bab al-Qadar, (VIII/48, no. 2648).
[3]. HR. Muslim, bab al-Qadar, (VIII/48-49, no. 2650).
[4]. HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabiir, (X/243, no.10448), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, (IV/108). Abu Nu’aim berkata, “Ghariib dari hadits al-A’amasy, karena Musahhar meriwayatkan sendirian.” Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id, (VII/202), “Di dalamnya terdapat Musahhar bin ‘Abdul-malik, dan dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban dan selainnya. Mengenai dirinya diperselisihkan, dan para perawinya yang lain adalah para perawi kitab Shahiih.” Al-‘Iraqi berkata dalam al-Mughni ‘an Hamlil Asfaar, (I/41), “Sanadnya hasan.” Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fat-h, (XI/486). As-Suyuthi mengisyaratkan kehasanannya dalam al-Jaami’ush Shaghiir Faidhul Qadiir, (I/348), dan al-Albani menilainya sebagai hadits shahih dalam Shahiihul Jaami’, (no. 545). Lihat pula, Silsilah ash-Shahiihah, (I/42, no. 34). Al-Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi, (VI/336), “Sanadnya hasan.” Hadits ini datang dari hadits Tsauban Radhiyallahu 'anhu dengan lafazhnya, dalam riwayat ath-Thabrani dalam al-Kabiir, (II/96, no. 1427). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id, (VII/202), “Di dalamnya terdapat Yazid bin Rabi’ah, dan dia adalah dha’if.”
[5]. HR. At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, kitab al-Qadar bab Maa Jaa-a fit Tasydiid fil Khaudh fil Qadar, (IV/443, no. 2133), dan dia mengatakan, “Dalam bab ini dari ‘Umar, ‘Aisyah dan Anas. Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini dari hadits Shalih al-Mirri. Sedangkan Shalih al-Mirri mempunyai banyak hadits gharib yang diriwayatkannya sen-dirian yang tidak diikuti dengan riwayat-riwayat pendukung.” Al-Albani menilai hasan dalam Shahiih Sunan at-Tirmidzi, (II/223, no. 1732 dan 2231). Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab z dengan redaksi:
áÇó ÊõÌóÇáöÓõæúÇ Ãóåúáó ÇáúÞóÏóÑö æóáÇó ÊõÝóÇÊöÍõæúåõãú.
“Janganlah bergaul dengan orang-orang yang suka membicarakan takdir dan jangan membuka pembicaraan dengan mereka.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, (I/30), Abu Dawud, (V/84, no. 4710 dan 4720), dan al-Hakim, (I/85).
[6]. Lihat, al-Ibaanah, Ibnu Baththah al-‘Ukbari, (I/421-422).
[7]. Lihat, ad-Diinul Khaalish, Shiddiq Hasan, (III/171).
[8]. Syarh al-Aqiidah ath-Thahaawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi, hal. 262, al-Ikhtilaaf fil Lafzh war Radd ‘alal Jahmiyyah wal Musyabbihah, Ibnu Qutaibah, hal. 35, dan Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 36.
[9]. Al-Qadhaa' wal Qadar fil Islaam, Dr. Faruq ad-Dasuqi, (I/368).
Baca Selengkapnya ......

Definisi Qadha' Dan Qadar Serta Kaitan Di Antara Keduanya

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

PERTAMA : QADAR
Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qa-dran). [1]

Ibnu Faris berkata, “Qadara: qaaf, daal dan raa’ adalah ash-sha-hiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah: akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qadar, dan qadartusy syai' aqdi-ruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.” [2]

Qadar (yang diberi harakat pada huruf daal-nya) ialah: Qadha' (kepastian) dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla dari qadha' (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara
.
Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu. Qadar itu sama dengan Qadr, semuanya bentuk jama’nya ialah Aqdaar. [3]

Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya. [4]

Atau: Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat ter-tentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya. [5]

Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir)-Nya terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut.

KEDUA : QADHA'
Qadha', menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.
Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyele-saikannya. Maknanya adalah mencipta. [6]

Kaitan Antara Qadha' dan Qadar
1. Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Maka Dia menjadikannya tujuh langit… ." [Fushshilat: 12]

Yakni, menciptakan semua itu.

Qadha' dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha'. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut. [7]

2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha' ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya. [8]

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha' adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.’” [9]

3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian sebagaimana yang telah diutarakan dalam dua pendapat sebelumnya. Jika keduanya terpisah, maka keduanya berhimpun, di mana jika salah satu dari kedunya disebutkan sendirian, maka yang lainnya masuk di dalam (pengertian)nya.


[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits, Ibnu Atsir, (IV/22).
[2]. Mu’jam Maqaayiisil Lughah, (V/62) dan lihat an-Nihaayah, (IV/23).
[3]. Lihat, Lisaanul ‘Arab, (V/72) dan al-Qaamuus al-Muhiith, hal. 591, bab qaaf - daal - raa'.
[4]. Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Syaikh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37.
[5]. Lawaami’ul Anwaar al-Bahiyyah, as-Safarani, (I/348).
[6]. Lihat, Ta-wiil Musykilil Qur-aan, Ibnu Qutaibah, hal. 441-442. Lihat pula, Lisaanul ‘Arab, (XV/186), al-Qaamuus, hal. 1708 bab qadhaa', dan lihat, Maqaa-yiisil Lughah, (V/99).
[7]. Lisaanul ‘Arab, (XV/186) dan an-Nihaayah, (IV/78).
[8]. Al-Qadhaa' wal Qadar, Syaikh Dr. ‘Umar al-Asyqar, hal. 27.
[9]. Fat-hul Baari, (XI/486).
[10]. Lihat, ad-Durarus Sunniyyah, (I/512-513).
Baca Selengkapnya ......

Buah Keimanan Kepada Qadha' Dan Qadar : Terbebas Dari Syirik, Ikhlas, Tawakkal, Takut Kepada Allah

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Iman kepada qadha' dan qadar menghasilkan buah yang besar, akhlak yang indah, dan ibadah yang beraneka ragam, yang pengaruhnya kembali kepada individu dan komunitas masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara buah-buah tersebut ialah sebagai berikut:

1. Menunaikan Peribadatan Kepada Allah Azza wa Jalla.
Iman kepada qadar merupakan salah satu peribadatan kita kepada Allah, sedangkan kesempurnaan makhluk itu adalah terletak pada realisasi peribadatannya kepada Rabb-nya. Setiap kali bertambah realisasi peribadatannya, maka bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya menjadi tinggi, sehingga segala sesuatu yang menimpanya dari perkara yang tidak disukainya pun menjadi kebaikan baginya. Dan dari keimanan tersebut, menghasilkan baginya berbagai peribadatan yang sangat banyak, yang sebagian di antaranya akan disebutkan.

2. Terbebas Dari Syirik.
Kaum Majusi menyangka, bahwa cahaya adalah pencipta kebajikan sedangkan kegelapan adalah pencipta keburukan. Dan Qadariyyah pun mengatakan, “Allah tidak menciptakan perbuatan para hamba, tetapi para hamba itulah yang menciptakan berbagai perbuatan mereka.” Maka mereka ini telah menetapkan pencipta-pencipta (yang lain) bersama Allah Azza wa Jalla

Kesesatan ini adalah syirik. Padahal iman kepada qadar dengan cara yang benar adalah dengan mentauhidkan Allah Azza wa Jalla

Kemudian orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa semua makhluk berada dalam kekuasaan Allah, diatur dengan qadar (ketentuan)-Nya. Semuanya tidak memiliki suatu kekuasaan pun, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk dirinya, terlebih terhadap selainnya, baik kemanfaatan maupun kemudharatan. Demikian pula dia pun mengetahui secara yakin, bahwa segala urusan itu adalah berada di tangan Allah, Dia memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah dari siapa yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketentuan dan ketetapan-Nya. Hal ini akan mendorongnya untuk mengesakan Allah dalam beribadah, semata-mata hanya untuk-Nya, tidak kepada selain-Nya. Maka ia tidak mendekatkan diri kepada selain Allah, dan tidak pula mengusap debu-debu kuburan, serta makam orang-orang shalih.

3. Memperoleh Hidayah Dan Tambahan Keimanan.
Orang yang beriman kepada qadar, dengan cara yang benar, berarti telah merealisasikan tauhid kepada-Nya, menambah keimanannya, dan berjalan di atas petunjuk dari Rabb-nya. Sebab, beriman kepada qadar termasuk mendapatkan petunjuk.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya." [Muhammad: 17]

Dia juga berfirman.

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya … ." [At-Taghaabun: 11]

‘Alqamah rahimahullahu berkata tentang ayat ini, “Yaitu, mengenai orang yang tertimpa musibah, lalu dia tahu bahwa hal itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia pun pasrah dan ridha.” [2]

4. Ikhlas.
Iman kepada qadar akan membawa pelakunya kepada keikhlasan, sehingga motifasinya dalam segala perbuatannya ialah melaksanakan perintah Allah. Orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa perintah adalah perintah Allah dan kekuasaan adalah kekuasaan-Nya, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, serta tidak ada yang dapat menolak karunia dan ketetapan-Nya. Semua itu mendorongnya kepada keikhlasan beramal karena Allah dan membersihkannya dari kotoran yang menodainya. Karena yang membawa ketidak-ikhlasan atau kekurangikhlasan adalah pamrih kepada manusia (riya’), mencari pujian atau sanjungan di hati mereka, atau lari dari celaan mereka, mencari harta mereka atau bantuan dan cinta mereka, atau selainnya dari noda-noda dan penyakit-penyakit yang dihimpun dalam menginginkan sesuatu selain Allah dalam beramal. [3]

Jika seorang hamba percaya, bahwa perkara-perkara ini tidak dapat diraih kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla, dan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, baik pada diri mereka maupun pada selain mereka, maka dia tidak akan peduli dengan manusia dan tidak mencari keridhaan mereka dengan menukarnya dengan mendapatkan murka Allah. Sehingga hal itu akan mendorong untuk lebih mendahulukan Dzat Yang Mahabenar daripada makhluk, kepada keikhlasan dan memurnikan ibadah, serta jauh dari segala riya’ dan kemusyrikan.

Dari sinilah akan diraih keutamaan ikhlas, yang merupakan keutamaan yang paling mulia. Karena ikhlas dapat meninggikan kedudukan amal, sehingga menjadi tangga-tangga untuk mencapai keberuntungan. Inilah yang membawa manusia untuk melanjutkan amal kebajikan, menjadikan tekad seseorang menjadi kuat, dan mengikat hatinya. Sehingga ia pun melangkah hingga mencapai tujuannya.

5. Tawakkal.
Tawakkal kepada Allah adalah inti ibadah, sedangkan tawakkal tidaklah sah dan lurus kecuali bagi siapa yang beriman kepada qadar sesuai dengan cara yang benar.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Syaikh kami [4] -semoga Allah meridhainya- mengatakan, ‘Karena itu, tawakkal tidak sah dan tidak terbayangkan berasal dari para filosof, tidak juga dari Qadariyyah yang membantah dan mengatakan bahwa dalam kekuasaan-Nya ada sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak juga dari Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Rabb Jalla jalaa Luhu, dan tidak pula tawakkal akan lurus kecuali dari kaum yang menetapkan sifat-sifat Allah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah).” [4]

Yang dimaksud dengan tawakkal, menurut syari’at adalah, mengarahkan hati kepada Allah pada saat beramal, meminta pertolongan, dan bersandar kepada-Nya semata. Itulah rahasia dan hakikat tawakkal.

Syari’at memerintahkan kepada orang yang beramal agar hatinya berhimpun di atas pelita tawakkal dan penyerahan diri.

Hal yang dapat merealisasikan tawakkal ialah, melakukan usaha-usaha yang diperintahkan. Barangsiapa yang menafikannya, maka tidak sah tawakkalnya.

Jika hamba bertawakkal kepada Rabb-nya, berserah diri kepada-Nya, dan menyerahkan urusannya kepada-Nya, maka Allah akan memberikan kepadanya kekuatan, tekad, kesabaran, dan menjauh-kannya dari berbagai bencana yang merupakan halangan ikhtiar hamba bagi dirinya, serta memperlihatkan kepadanya kebaikan berbagai akibat ikhtiarnya untuknya, yang tidak mungkin dia sampai kepadanya walaupun kepada sebagiannya, apabila (hanya bersan-darkan) kepada ikhtiarnya semata.

Ini semua akan menenangkannya dari pemikiran-pemikiran yang melelahkan dalam berbagai jenis ikhtiar, dan mengosongkan hatinya dari pertimbangan-pertimbangan yang sewaktu-waktu dia tempuh dan sewaktu-waktu ia tinggalkan.

6. Takut Kepada Allah.
Orang yang beriman kepada qadar akan Anda jumpai senantiasa takut kepada Allah dan suul khaatimah (akhir kematian yang buruk), sebab dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan tidak juga merasa aman dari makar Allah.

Dari sini, dia akan merasa amalnya sedikit dan tidak terpedaya dengan amalnya, apa pun yang telah dilakukannya. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya bagaimana saja Ia kehendaki, dan pengetahuan tentang akhir dari amalnya adalah berada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ÝóæóÇááåö¡ Åöäøó ÃóÍóÏóßõãú Ãóæö ÇáÑøóÌõáó íóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö¡ ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæúäõ Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåóÇ ÛóíúÑõ ÈóÇÚò Ãóæú ÐöÑóÇÚò¡ ÝóíóÓúÈöÞõ ÚóáóÜíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ¡ ÝóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóíóÏúÎõáõåóÇ. æóÅöäøó ÇáÑøóÌõáó¡ áóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö¡ ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæúäõ Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåóÇ ÛóíúÑõ ÐöÑóÇÚò Ãóæú ÐöÑóÇÚóíúäö¡ ÝóíóÓúÈöÞõ Úóáóíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ¡ ÝóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö ÝóíóÏúÎõáõåóÇ.

“Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kalian atau seseorang beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya sedepa atau sehasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan sebelumnya atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga dia pun masuk ke dalam Surga. Dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak antara dirinya dengan Surga hanya sehasta atau dua hasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga dia pun masuk Neraka.” [6]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

Åöäøó ÇáúÚóÈúÏó áóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö æóÅöäøóåõ ãöäú Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö¡ æóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö æóÅöäøóåõ ãöäú Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö¡ æóÅöäøóãóÇ ÇúáÃóÚúãóÇáõ ÈöÇáúÎóæóÇÊöíúãö.

“Seorang hamba benar-benar beramal dengan amalan ahli Neraka padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Surga, dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Neraka, sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada akhir penutupnya.” [7]

7. Kuat Harapan Dan Berprasangka Baik Kepada Allah.
Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha' dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan ridha kepada apa yang dipilihkan Rabb-nya untuknya, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi dan baik berupa kelapangan yang disegerakan. [8]

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Lihat, al-Fawaa-id, Ibnul Qayyim, hal. 137-139, 178-179, 200-202, al-Jaami’ush Shahiih fil Qadar, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, hal. 11-12, Majmuu’ah Duruus wa Fataawaa al-Haramil Makki, Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, (I/73), al-Qadhaa' wal Qadar, Dr. ‘Umar al-‘Asyqar, hal. 109-112, al-Iiman, Dr. Muhammad Na’im Yasin, dan al-Qadhaa' wal Qadar, Dr. ‘Abdurrahman al-Mahmud, hal. 293-300.
[2]. Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VIII/283).
[3]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, Ibnul Qayyim, (II/93).
[4]. Yakni, Ibnu Taimiyyah v.
[5]. Madaarijus Saalikiin, (II/218).
[6]. HR. Al-Bukhari, )no. 6594(.
[7]. HR. Al-Bukhari, )no. 6607(.
[8]. Madaarijus Saalikiin, (II/166-199).
Baca Selengkapnya ......

Buah Keimanan Kepada Qadha' Dan Qadar : Kesabaran Dan Ketabahan, Memerangi Keputusasaan, Ridha

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

7. Kuat Harapan Dan Berprasangka Baik Kepada Allah.
Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha' dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan ridha kepada apa yang dipilihkan Rabb-nya untuknya, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi dan baik berupa kelapangan yang disegerakan. [1]

8. Kesabaran Dan Ketabahan.
Iman kepada qadar membuahkan bagi pelakunya ibadah (dalam bentuk) kesabaran terhadap takdir yang menyakitkan. Kesabaran merupakan sifat yang indah dan sifat yang terpuji, yang mempunyai faidah-faidah yang banyak, berbagai manfaat yang mulia, berbagai akibat yang baik, dan berbagai dampak yang terpuji. Setiap manusia harus memiliki kesabaran atas sebagian perkara yang tidak disukainya, baik dengan kesadaran maupun terpaksa. Orang yang mulia akan bersabar dengan kesadarannya, karena dia mengetahui akibat baik dari kesabaran. Dia akan memuji karena adanya musibah itu, dan mencela kegelisahan. Seandainya pun dia tidak bersabar, maka kesedihan itu tidak kembali kepadanya, dan tidak melepaskan diri darinya dengan kebencian. Barangsiapa yang tidak bersabar dengan kesabaran orang-orang yang mulia, maka dia tidak ubahnya dengan binatang ternak. [2]

Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

“Kami mendapati, bahwa sebaik-baik kehidupan kami (yang kami jalani) adalah dengan kesabaran.” [3]

Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata,


“Kesabaran adalah tunggangan yang tidak pernah terjatuh.” [4]

Al-Hasan rahimahullahu berkata, “Kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan kebaikan, yang tidak diberikan Allah, kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.” [5]

Benarlah apa yang disebutkan oleh seorang penya’ir:

Kesabaran, seperti namanya, adalah pahit rasanya
tetapi akibatnya lebih manis dari madu

Karenanya, Anda melihat orang yang beriman kepada qadar memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Berbeda dengan orang yang lemah keimanannya kepada qadar, yang tidak kuat untuk bersabar dan tidak bersabar terdapat suatu masalah yang paling kecil pun yang dihadapinya, karena kelemahan imannya, kelembekan jiwanya, dan kecemasannya yang besar terhadap sesuatu yang kecil. Ketika dia tertimpa sesuatu yang remeh, Anda melihatnya sempit dadanya, sedih hatinya, murung wajahnya, tertunduk penglihatannya, kesedihan menghimpit dadanya, lalu semua hal itu membuatnya tidak bisa tidur dan memeluhkan keningnya. Musibah itu -bahkan yang lebih besar darinya- sekiranya menimpa orang yang lebih kuat keimanan dan ketabahan musibah itu daripadanya, maka dia tidak akan menghiraukannya, hal itu tidak mengusik jiwanya, kelopak matanya masih bisa terpejam, hatinya ridha, dan dirinya pun tetap tenang.

Orang-orang yang tidak beriman kepada takdir akan cemas karena sebab-sebab yang remeh, bahkan mungkin kecemasan tersebut bisa membawa mereka kepada kegilaan, waswas, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan bahkan bunuh diri.

Karena itu, banyak terjadi kasus bunuh diri di negeri-negeri yang tidak beriman kepada qadha' dan qadar, seperti Amerika, Swedia, Norwegia, dan yang lainnya, bahkan beberapa negara telah sampai kepada keadaan, di mana mereka membuka beberapa rumah sakit untuk bunuh diri.

Seandainya kita membahas sebab-sebab mereka melakukan bunuh diri, niscaya kita melihatnya remeh sekali, yang menyebab-kan tidak ingin melihatnya dan menutup mata darinya. Sebagian mereka bunuh diri karena pinangannya meninggalkannya, sebagian lainnya karena sebab kegagalannya dalam ujian, dan sebagian mereka bunuh diri karena sebab kematian pemusik yang disukainya atau seseorang yang dikaguminya, atau karena sebab kekalahan tim yang didukungnya, dan seterusnya.

Adakalanya bunuh diri dilakukan secara kolektif. Anehnya, bahwa mayoritas kaum yang melakukan bunuh diri bukanlah dari golongan orang miskin, sehingga bisa dikatakan, “Mereka bunuh diri karena penghidupan mereka yang sempit".

Bahkan, mereka adalah berasal dari kalangan elit yang dikenal dengan kekayaannya, orang-orang yang terkenal, bahkan dilakukan para psikiater, yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan dan dapat menyelesaikan berbagai problem.

9. Memerangi Keputusasaan.
Orang yang tidak beriman kepada qadar akan tertimpa keputus-asaan, dan keputusasaan tersebut akan terus berlangsung hingga puncaknya. Jika dia tertimpa suatu musibah, maka dia menyangka bahwa hal itu akan memecahkan punggungnya. Jika malapetaka turun kepadanya, maka dia menyangka bahwa hal itu adalah musibah yang terus-menerus yang tidak akan berakhir.

Demikian pula jika dia melihat kekuasaan dan kekuatan kebathilan, sedangkan pengikut kebenaran terlihat lemah dan tidak berdaya, maka dia menyangka bahwa kebathilan akan terus berlangsung dan kebenaran akan sirna.

Putus asa adalah racun yang mematikan dan penjara yang gelap, yang akan memasamkan wajah dan menghalangi jiwa dari kebajikan. Tidak henti-hentinya keputusasaan itu menyertai manusia sehingga menghancurkannya atau menenggelamkan kehidupannya.

Adapun orang yang beriman kepada qadar, maka dia tidak mengenal putus asa, dan engkau tidak melihatnya selain optimis dalam segala keadaannya, menunggu kelapangan dari Rabb-nya, mengetahui bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Engkau melihatnya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa akibat yang terbaik itu bagi ketakwaan dan orang-orang yang bertakwa, dan ketentuan Allah mengenai hal itu pasti berlaku. Oleh karena itu, dia tidak berputus asa, meskipun kegelapan kebathilan amat mencekam. Sebab, hati yang bersandar kepada kekuasaan Allah serta kelembutan dan kemurahan-Nya, akan membersihkan noda-noda keputusasaan dan pohon-pohon kemalasan dan menguat-kan “punggung” harapan, yang dengannyalah orang yang berusaha akan masuk menyelami lautan yang dalam dan dengannya akan mampu menghalau binatang buas yang membahayakan dalam perjalanannya.

10. Ridha.
Orang yang beriman kepada qadar, keimanannya tersebut dapat meninggikannya, sehingga menghantarkannya kepada tingkatan ridha. Barangsiapa yang ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya, bahkan ridha hamba kepada Allah adalah hasil dari ridha Allah kepadanya. Jadi, ia diliputi dengan dua jenis keridhaan-Nya kepada hamba-Nya: keridhaan sebelumnya, yang mengharuskan ia ridha kepada-Nya dan keridhaan sesudahnya, yang merupakan buah ridhanya kepada-Nya.

Karena itu, ridha adalah pintu Allah yang terbesar, Surga dunia, peristirahatan para ahli ibadah, dan pelipur orang-orang yang rindu. [6]

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali, dan bertawakkal kepada-Nya.

Barangsiapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya.” [7]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz, “Kapankah hamba akan mencapai kedudukan ridha?” Ia menjawab, “Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, ‘Jika Engkau memberikan kepadaku, maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku, maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku, maka aku tetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahkanku, maka aku memenuhi panggilan-Mu.” [8]

Sebagian mereka mengatakan, “Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak meng-halangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau meninggalkan keridhaan kepada-Nya sekejap mata pun, sehingga engkau pun jatuh dalam pandangan-Nya.” [9]

Di antara hal yang semestinya diketahui adalah, bahwa bukan merupakan syarat keridhaan, (yaitu dengan) seorang hamba tidak merasakan kepedihan dan ketidaksenangan, tetapi (yang merupakan syarat adalah apabila) dia tidak menolak ketentuan itu dan tidak pula membencinya. [10]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:
Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah
maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah

Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia
ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah [11]

Meskipun demikian, hamba tidak dapat keluar dari apa yang telah ditentukan Allah atasnya. Seandainya dia ridha dengan pilihan Allah, maka takdir tetap menimpanya sedangkan ia berada dalam keadaan terpuji, dihargai, dan dilindungi. Jika tidak, maka takdir pun tetap menimpanya, dalam keadaan dia tercela serta tidak dilindungi.

Selama kepasrahan dan ridhanya benar, maka penjagaan dan perlindungan terhadapnya akan menaunginya dalam apa yang ditakdirkan, sehingga dia berada di antara penjagaan dan perlindungan-Nya.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Madaarijus Saalikiin, (II/166-199).
[2]. Lihat, ‘Iddatush Shaabiriin, Ibnul Qayyim, hal. 124 dan Tasliyyah Ahlil Mashaa-ib, al-Munbaji, hal. 135-151.
[3]. ‘Iddatush Shaabiriin, hal. 124.
[4]. Ibid.
[5]. Ibid, hal. 124.
[6]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/172).
[7]. Madaarijus Saalikiin, (II/202).
[8]. Madaarijus Saalikiin, (II/172).
[9]. Madaarijus Saalikiin, (II/216).
[10]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/169-232), di dalamnya berisikan pembicaraan yang mendetail tentang ridha.
[11]. Bardul Akbaad ‘inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37.
Baca Selengkapnya ......

Buah Keimanan Kepada Qadha' Dan Qadar : Syukur, Kegembiraan, Rendah Hati, Kemurahan Dan Kedermawanan

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd


11. Syukur.
Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur.

Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia ber-syukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.

Jika manusia senantiasa bersyukur, maka kenikmatannya men-jadi langgeng dan melimpah, karena syukur adalah pengikat kenikmatan-kenikmatan yang masih ada dan pemburu kenikmatan-kenikmatan yang hilang. Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

"Artinya : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu… . " [Ibrahim : 7]

Apabila engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka hadapilah ia dengan syukur. [1]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:

Qadha' berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan
untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah, bukan untuk orang yang lalai
Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan
pada dua keadaan tersebut dia mengucapkan: “Alhamdulillaah” [2]

12. Kegembiraan.
Orang yang beriman kepada qadar akan bergembira dengan keimanan ini, yang kebanyakan manusia tidak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman:

"Artinya : Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’" [ Yunus : 58]

Kemudian orang yang beriman kepada qadar memungkinkan keadaannya untuk meningkat dari ridha kepada ketentuan Allah dan bersyukur kepadanya, kepada derajat kegembiraan. Di mana ia bergembira dengan segala yang ditakdirkan dan ditentukan Allah kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.

Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. Setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tapi tidak semua orang yang ridha adalah orang yang bergembira. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas. Wallaahu a’lam.” [3]

13. Tawadhu’ (Rendah Hati).
Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada ketawadhu’an, meskipun dia diberi harta, kedudukan, ilmu, popularitas, atau selainnya, karena dia mengetahui bahwa segala yang diberikan kepadanya hanyalah dengan takdir Allah. Sekiranya Allah menghendaki, Dia dapat mencabut semua itu darinya.

Karena itulah, dia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada sesamanya, serta mengenyahkan kesombongan dan kecongkakan dari dirinya.

Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepadanya. Karena barangsiapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya?
Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna
ialah ketawadhu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi [4]

14. Kemurahan Dan Kedermawanan.
Sebab, orang yang beriman kepada qadar mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah Yang memberi rizki dan menentukan penghidupan di antara para makhluk, sehingga masing-masing mendapatkan bagiannya. Tidaklah mati suatu jiwa pun sehingga sempurna rizki dan ajalnya, dan tidaklah seseorang menjadi fakir, kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla

Iman ini akan melapangkan dada pelakunya untuk berinfak dalam berbagai aspek kebaikan, sehingga dia pun lebih mendahulu-kannya dengan hartanya walaupun dia sangat membutuhkannya, disebabkan percaya kepada Allah dan memenuhi perintah-Nya untuk berinfak, serta merasa bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang mulia itu terdapat tuntutan untuk mengorbankan harta di jalan kebaikan tersebut tanpa berpikir panjang, dan karena dia tahu bahwa harta itu adalah harta Allah. Akhirnya, dia memilih untuk meletakkan harta tersebut di tempat di mana Allah memerintahkan untuk meletakkannya.

Kemudian iman kepada qadar pun akan memadamkan kerakusan dari hati orang yang beriman, sehingga dia tidak rakus terhadap dunia dan tidak mengejarnya kecuali sekedar kebutuhan. Ia tidak membuang rasa malunya untuk mencarinya, bahkan dia menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia, karena di antara jenis kedermawanan ialah menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia. Hal ini akan membuahkan kemuliaan jiwa dan keberanian baginya.

Hal yang menyebabkan manusia tidak memiliki keberanian dan kemuliaan jiwa ialah karena kerakusannya yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia.

15. Keberanian Dan Mengenyahkan Kelemahan Serta Sifat Pengecut.
Iman kepada qadar akan memenuhi hati pelakunya dengan keberanian serta mengosongkannya dari segala kelemahan dan sifat pengecut. Karena orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum hari kematiannya dan tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah dituliskan untuknya. Seandainya umat berkumpul untuk memberi kemudharatan kepadanya, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadanya kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah untuknya.

Di antara yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ialah sya’irnya:

Pada hariku yang manakah
aku dapat lari dari kematian
Apakah pada hari yang belum ditakdirkan
ataukah pada hari yang telah ditakdirkan
Apabila pada hari yang tidak ditakdirkan
maka aku tidak akan takut darinya
Tapi apabila kematian telah ditakdirkan
maka hati-hati dan menghindar darinya tidaklah menyelamatkanku

Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu memiliki juga sya’ir yang semisal dengannya:

Orang penakut itu merasa dirinya akan terbunuh
sebelum kematian datang menghabisinya
Terkadang beberapa bahaya menimpa orang penakut
sedang orang yang berani selamat darinya

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu “Hal yang dapat memutuskan rasa takut adalah berserah diri kepada Allah. Maka, barangsiapa yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Allah, mengetahui bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan luput darinya, sedangkan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya, dan juga mengetahui bahwa tidak akan menimpanya, kecuali apa yang telah dituliskan baginya, maka tidak akan tersisa tempat pada hatinya untuk takut kepada para makhluk. Sesungguhnya, jiwanya yang ia khawatirkan keselamatanya, sebenarnya telah berserah diri kepada Pelindungnya, dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa jiwa itu, kecuali yang telah dituliskan, dan bahwa apa pun yang telah dituliskan baginya pasti menimpanya. Jadi pada hakikatnya, tidak pantas ada rasa takut kepada selain Allah itu.”

“Selain itu, di dalam ketundukkan kepada Allah itu terdapat manfaat yang tersembunyi, yaitu apabila ia menyerahkan jiwanya kepada Allah, pada hakikatnya ia telah menitipkannya pada-Nya dan melindunginya (dengan menjadikannya) dalam lindungan-Nya. Sehingga tidak akan bisa menyentuhnya tangan musuh dan kezhaliman orang yang zhalim.”

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/199, 235, 243).
[2]. Bardul Akbaad, hal. 9.
[3]. Madaarijus Saalikiin, (III/150).
[4]. Ghadzaa-ul Albaab, as-Safarini, (II/223).
Baca Selengkapnya ......

Sabda Nabi Tentang Orang Yang Di Lapangkan Rezki Dan Panjang Umur

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : " Tentang sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : 'Barangsiapa senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim' Muttafaq Alaih dari hadits Anas.

Apakah hal ini berarti bahwa manusia akan panjang umurnya jika ia menyambung silaturahim dan umurnya terbatas jika tidak menyambungnya?"

Jawaban.
Maknanya bukan berarti manusia memiliki dua umur ; satu umur bila ia menyambung tali silaturahim dan satu umur lagi bila ia tidak menyambungnya. Karena umur itu hanya satu dan yang ditetapkan juga satu. Dan manusia yang ditetapkan oleh Allah akan menyambung tali silaturahim, ia pasti akan menyambungnya dan orang yang ditetapkan oleh Allah akan memutuskannya, pasti ia akan memutuskannya, tidak bisa tidak.

Akan tetapi Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bermaksud menganjurkan umat ini untuk melakukan sesuatu yang mengandung kebaikan. Seperti kita mengatakan ; siapa yang ingin memiliki anak, hendaklah ia menikah. Nikah telah ditetapkan, demikian pula anak telah ditetapkan. maka apabila Allah menghendaki anda memiliki anak, berarti Dia menghendaki anda menikah. Demikian pula rizki telah ditetapkan sejak azali dan juga telah ditetapkan bahwa anda akan menyambung tali silaturahim. Akan tetapi anda tidak mengetahui tentang persoalan ini, maka Nabi memotivasi dirimu. Dan Nabi menjelaskan apabila anda menyambung tali silaturahim maka Allah akan melapangkan rizki anda dan memanjangkan umur anda pula.

Dan jika tidak demikian, maka tiap-tiap sesuatu telah ditetapkan, akan tetapi mengingat silaturahim merupakan satu perkara yang manusia patut melakukannya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkannya. Dengan menjelaskan bahwa manusia apabila ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim. Jika tidak demikian, maka orang yang menyambung tali silaturahim telah ditetapkan dan telah ditetapkan pula umurnya sampai batas waktu yang ditetapkan Allah Azza wa Jalla. Kemudian ketahuilah bahwa pemanjangan umur dan pelapangan rizki merupakan perkara yang nisbi. Oleh karena itu, kita mendapati sebagian manusia menyambung tali silaturahim dan rizkinya dilapangkan, tetapi umurnya pendek. Fenomena ini dapat kita saksikan.

Namun menurut kami, orang yang berumur pendek padahal ia menyambung tali silaturahim, maka seandainya ia tidak menyambung tali silaturahim, niscaya umurnya lebih pendek lagi. Akan tetapi Allah telah menetapkan sejak azali bahwa orang ini akan menyambung tali silaturahim dan umurnya akan berakhir pada waktu yang cepat.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]
Baca Selengkapnya ......

Hujjah Orang Yang Melakukan Maksiat

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin





Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang berhujjahnya orang yang melakukan maksiat –apabila dilarang berbuat maksiat dengan firman Allah : "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Jawaban
Apabila ia berhujjah dengan ayat tadi, maka hujjah kita adalah dengan firman Allah Ta'ala :

"Artinya : Beritahukan kepada hamba-hambaKu bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa siksaKu adalah siksa yang pedih" [Al-Hijr : 49-50]

Dan dengan firmanNya

"Artinya : Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya. Dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Al-Ma'idah : 98].

Jadi apabila didatangkan ayat-ayat yang mengandung pengharapan, datangkan saja ayat-ayat yang mengandung ancaman.

Jawaban seperti itu sebenarnya bukan jawaban dari dia, melainkan jawaban orang-orang yang menganggap remeh/ringan. Maka kiapun mengatakan kepadanya ; Bertakwalah kamu kepada Allah dan laksanakanlah apa-apa yang diwajibkan Allah kepadamu serta mintalah ampun kepadaNya, karena tidak setiap orang yang menunaikan sesuatu yang diwajibkan Allah dapat melakukannya dengan sempurna.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]
Baca Selengkapnya ......

Kesaksian Yang Benar Dari Kalangan Non Muslim Terhadap Qadha Dan Qadar

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd



Keimanan kaum muslimin kepada qadha' dan qadar telah mencengangkan banyak kalangan non muslim, lalu mereka menulis tentang perkara ini untuk mengungkapkan ketercengangan mereka dan mencatatkan kesaksian mereka tentang kekuatan tekad kaum muslimin, kebesaran jiwa mereka, dan penyambutan mereka yang baik terhadap berbagai kesulitan hidup.

Ini adalah kesaksian yang benar dari kaum yang tidak beriman kepada Allah serta kepada qadha' dan qadar-Nya.

Di antara orang-orang yang menulis tentang masalah ini ialah penulis terkenal, R.N.S. Budly, penulis buku Angin di Atas Padang Pasir dan ar-Rasuul, serta 14 buku lainnya. Dan juga orang yang mengemukakan pendapatnya yaitu Del Carnegie dalam bukunya, Tinggalkan Kegalauan dan Mulailah Kehidupan, dalam artikel yang berjudul, Aku Hidup Dalam Surga Allah.

Budly menuturkan:
“Pada tahun 1918 aku meninggalkan dunia yang telah aku kenal sepanjang hidupku, dan aku merambah ke arah Afrika utara bagian barat, di mana aku hidup di tengah-tengah kaum badui di padang pasir. Aku habiskan waktu di sana selama tujuh tahun. Selama waktu itu aku memperdalam bahasa badui, aku memakai pakaian mereka, makan dari makanan mereka, berpenampilan ala mereka, dan hidup seperti mereka. Aku mempunyai kambing-kambing, dan aku tidur sebagaimana mereka tidur dalam tenda. Aku mendalami studi Islam sehingga aku berhasil menyusun sebuah buku tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjudul ar-Rasuul. Tujuh tahun yang aku habiskan bersama kaum badui yang hidup berpindah-pindah (nomaden) tersebut merupakan tahun-tahun kehidupanku yang paling menyenangkan, dan aku mendapatkan kedamaian, ketentraman, dan ridha terhadap kehidupan ini.

Aku belajar dari bangsa ‘Arab padang pasir bagaimana mengatasi kegelisahan, karena mereka sebagai muslim, beriman kepada qadha' dan qadar. Dan keimanan ini membantu mereka untuk hidup dalam rasa aman, dan mengambil kehidupan ini pada tempat pengambilan yang mudah dan gampang. Mereka tidak terburu-buru pada suatu perkara, dan tidak pula menjatuhkan diri mereka di tengah-tengah kesedihan karena gelisah terhadap suatu masalah.

Mereka beriman bahwa apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, dan seorang dari mereka tidak akan tertimpa suatu musibah kecuali apa yang telah ditentukan Allah untuknya.

Ini bukan berarti bahwa mereka pasrah atau pasif, dengan wajah sedih dan berpangku tangan, sekali-kali tidak.”

Kemudian, setelah itu, dia mengatakan:
“Biarkan aku membuatkan untukmu suatu permisalan terhadap apa yang aku maksudkan: Pada suatu hari angin bertiup kencang yang membawa pasir-pasir padang pasir, melintasi laut tengah, dan menghantam lembah Raun di Prancis. Angin ini sangat panas, sehingga aku merasakan seakan-akan rambutku terlepas dari tempat tumbuhnya, karena terjangan hawa panas, dan aku merasa seolah-olah aku didorong menjadi gila.

Tetapi bangsa ‘Arab tidak mengeluh sama sekali. Mereka menggerakkan pundak-pundak mereka seraya mengatakan dengan ucapan mereka yang menyentuh, “Qadha' yang telah tertulis.”

Tetapi, angin kencang tersebut memotifasi mereka untuk bekerja dengan semangat yang besar. Mereka menyembelih kambing-kambing muda sebelum panas membinasakan kehidupannya, kemudian mereka menggiring ternak ke arah selatan menuju air.

Mereka melakukan hal ini dengan diam dan tenang, tidak tampak suatu keluhan pun dari salah seorang mereka.

Ketua suku, asy-Syaikh, mengatakan, ‘Kita tidak kehilangan sesuatu yang besar, sebab kita diciptakan untuk kehilangan segala sesuatu. Tetapi puji dan syukur kepada Allah, karena kita masih mempunyai sekitar 40% dari ternak kita, dan dengan segala kemampuan kita, kita akan memulai aktifitas kita kembali.’

Kemudian Budly mengatakan, “Ada kejadian lainnya. Kami menempuh padang pasir dengan mobil pada suatu hari, lalu salah satu ban mobil pecah, sedangkan sopir lupa membawa ban serep. Aku pun dikuasai kemarahan, kegelisahan, serta kesedihan. Aku bertanya kepada sahabat-sahabatku dari kalangan ‘Arab badui, ‘Apakah yang bisa kita lakukan?’

Mereka mengingatkanku bahwa kemarahan sama sekali tidak ada gunanya, bahkan itu dapat mendorong manusia kepada tindakan gegabah dan bodoh.

Kemudian mobil berjalan mengangkut kami hanya dengan tiga roda. Tetapi tidak lama kemudian mobil tidak bisa berjalan, dan saya tahu bahwa bensinnya habis.

Anehnya, tidak seorang pun dari sahabat-sahabatku dari kalangan ‘Arab badui yang marah, dan mereka tetap tenang, bahkan mereka berlalu menyusuri jalan dengan berjalan kaki.”

Setelah Budly mengemukakan pengalamannya bersama bangsa ‘Arab gurun, dia mengomentari dengan pernyataan: “Tujuh tahun yang aku habiskan di padang pasir di tengah-tengah bangsa ‘Arab nomaden telah memuaskanku, bahwa orang-orang yang stres, orang-orang yang sakit jiwa, dan orang-orang mabuk yang dipelihara oleh Amerika dan Eropa, mereka tidak lain hanyalah korban peradaban yang menjadikan “sesuatu yang sementara” sebagai landasannya.

Saya tidak mengalami kegelisahan sedikit pun ketika tinggal di gurun pasir, bahkan di sanalah, di Surga Allah, saya mendapatkan ketentraman, qana’ah, dan ridha.”

Akhirnya, dia menutup pernyataannya dengan ucapannya: “Ringkasnya, setelah berlalu tujuh belas tahun sesudah meninggalkan padang pasir, saya tetap mengambil sikap bangsa ‘Arab berkenaan dengan ketentuan Allah, sehingga saya menghadapi kejadian-kejadian yang saya tidak berdaya di dalamnya dengan ketenangan, ketundukan, dan ketentraman.

Watak yang saya ambil dari bangsa ‘Arab ini telah berhasil dalam menentramkan syarafku, yang lebih banyak dibandingkan apa yang dihasilkan oleh ribuan obat-obat penenang dan klinik-klinik kesehatan.” [1]

[Da’il Qalaq wabdaa-il Hayaah, Del Carnegie, hal. 291-295 dan lihat, al-Iimaan bil Qadhaa' wal Qadar wa Atsaruhu ‘alal Qalaq an-Nafsi, karya Tharifah bin Su’ud asy-Syuwai’ir, hal. 74-75]

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Artikel ini dikutip dari pembahasan Buah Keimanan Kepada Qadha dan Qadar, No. 22. Membebaskan akal dari khurafat dan kebathilan.
Baca Selengkapnya ......

Pengertian Tauhid Dan Pendapat-Pendapat Tentang Qadar

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama:
Tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua:
Tauhid Ar-Rububiyah, ialah rneng esakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai
dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga:
Tauhid Al-Asma' was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.


PENDAPAT-PENDAPAT TENTANG QADAR

Pembaca yang budiman.
Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah dalam tiga golongan.

Pertama:
Mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dan hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya. Tentu saja mereka ini keliru dan sesat, karena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

Kedua:
Mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah serta diciptakan olehNya. Menurut mereka, manusia memmiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga:
Mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar'i dan dalil 'aqli Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam semesta ini terbagi atas dua macam:

[1]. Perbuatan yang dilakukan oleh Allah, terhadap makhlukNya Dalam hal ini tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti; turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah. Hal seperti ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

[2]. Perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya karena Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah:

"Artinya : Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus" [At-Takwir: 28]

”Artinya : Di antara kamu ada orang yang- menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat." [Ali Imran : 152]

"Artinya : Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir " [Al-Kahfi : 29]

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya itu atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama atas dasar kemauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikianlah segala yang terjadi dari manusia, dia mengetahui perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak.

Akan tetapi, karena kasih sayang Allah, ada di antara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan Sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan dan orang yang sedang tidur.

Firman Allah dalam kisah Ashabul Kahfi.

"Artinya : ... dan Kami mereka ke kanan dan ke kiri...” [Al-Kahfi :18]

Padahal merekalah sendiri yang berbalik ke kanan dan ke kiri, tetapi Allah menyatakan bahwa Dialah yang membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapat hukuman atas perbuatannya, maka perbuatan tersebut di-nisbat-kan kepada Allah.

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam

"Artinya : Barangsiapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaklah !a menyempurnakan puasanya, karena Allah yang memberinya makan dan memberinya minum. "

Dinyatakan dalam hadits ini bahwa yang memberinya makan dan minum adalah Allah karena perbuatannya tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan-akan terjadi tanpa kemauannya

Kita semua mengetahui perbedaan antara rasa sakit atau rasa senang yang kadangkala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak tahu sebabnya dan rasa sakit atau rasa senang yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dia sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.


[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]
Baca Selengkapnya ......

Sanggahan Terhadap Mereka Yang Ekstrim Dalam Menetapkan Qadar Dan Menolak Adanya Kehendak Makhluk

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pembaca yang budiman.

Seandainya kita mengambil dan mengikuti pendapat golongan pertama, yaitu mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sialah syari'at ini dari semula. Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatan yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatan yang tercela. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan dirinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala -Mahasuci Allah dari pendapat dan pemahaman yang demikian ini- adalah zhalim jika mengadzab dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, sebab perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan keinginannya.

Pendapat seperti ini jelas sangat bertentangan dengan firman Allah:

"Artinya : Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku', Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala; yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Sedang (syaitan) yang menyertai dia berkata, 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan disisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu." [Qaaf : 23-29]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa siksaan dariNya itu adalah karena kemahaadilanNya, dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-hambaNya. Sebab Allah telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi manusia. Akan tetapi mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan mempunyai alasan dihadapan Allah untuk membantah keputusanNya.

Andaikata kita menganut pendapta bathil ini, niscaya sia-sialah firman
Allah Ta'ala:

"Artinya : (Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [An-Nisa': 165]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak ada balasan lagi bagi manusia setelah diutusnya para rasul, karena sudah jelas hujjah Allah atas mereka. Maka seandainya masalah qadar bisa dijadikan alasan bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun sesudah diutusnya para rasul. Karena qadar (takdir) Allah sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para rasul dan tetap sesudah diutusnya mereka.

Dengan demikian pendapat ini adalah bathil karena tidak sesuai dengan nash dan kenyataan, sebagaimana telah kami uraikan contoh-contoh di atas.


[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]
Baca Selengkapnya ......

Sanggahan Terhadap Mereka Yang Menetapkan Kemampuan Manusia Dan Meniadakan Kehendak Allah

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan manusia, maka pendapat inipun bertentangan dengan nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang menjelaskan bahwa kehendak manusia di bawah (tidak lepas dari) kehendak Allah.

Firman Allah:

"Artinya : (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." [At-Takwir: 28-29]

"Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka." [Al-Qashash : 68]

"Artinya : Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam)." [Yunus : 25]

Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah satu aspek dari rububiyah Allah, dan berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang tidak dikehendaki dan tidak diciptakanNya. Padahal Allah-lah yang menghendaki segala sesuatu, menciptakannya dan menentukan qadar (taqdir)nya.

Sekarang, kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan allah, lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan tidak mendapat petunjuk?

Jawabnya: bahwa Allah menunjuki orang-orang yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi sesat.

Firman Allah:

"Artinya : Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." [Ash-Shaff : 5]

"Artintya : (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membantu, mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya" [Al-Maidah : 13]

Di sini Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya. Karena dia tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi, maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah telah menghendakinya demikian? Apa tak lebih patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian mengatakan bahwa "Allah telah menunjukkan kepadaku jalan kebenaran?".

Pantaskah dia menjadi seorang jabari [1] kalau tersesat dan qadari [2] kalau berbuat kebaikan?

Sungguh tak pantas bagi seseorang menjadi jabari ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiaatan, kalau ia tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah dia mengatakan: "Ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah"; tetapi ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufik dari Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan dia mengatakan: "Ini kuperoleh dari diriku sendiri." Dengan demikian dia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan menjadi jabari dalam segi kemaksiatan.

Ini tidak boleh sama sekali, sebab sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan kemampuan.

Masalah hidayah sama halnya dengan masalah rizki dan menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan rizki yang menjadi bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke kanan dan ke kiri, di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk saja di rumah seraya berkata: "Kalau sudah ditakdirkan rizkiku tentu akan datang dengan sendirinya." Bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini disebutkan bersamaan amal perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud:

"Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian beruah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian berubah segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara, yaitu: rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah termasuk orang celaka atau bahagia."

Jadi, rizki ini pun telah dicatat seperti hanya amal perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah dicatat.

Kalau begitu, mengapa Anda pergi ke sana kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan kebahagiaan Surga? Padahal kedua-duanya adalah sama, tidak ada perbedaannya.

Jika Anda mau berusaha mencari rizki untuk mempertahankan kelansungan hidup anda, sehingga kalau Anda kalau sakit pergi ke manapun mencari dokter ahli yang dapat mengobati penyakit Anda, padahal Anda tahu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat bertambah maupun berkurang, Anda tidak bersikap pasrah sambil berkata: "Sudahlah aku tetap tinggal di rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun aku ditakdirkan panjang umur akan tetap hidup." Bahakan Anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit Anda dengan takdir Allah. Jika demikian, mengapa usaha Anda di jalan akhirat dan dalam amal shalih tidak seperti usaha Anda untuk kepentingan dunia?

Sebagaimana telah kami kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak mungkin Anda paat mengetahuinya. Sekarang Anda berada di antara dua jalan; jalan yang membawa Anda kepada keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan; dan jalan yang dapat membawa Anda kepada kehancuran, penyesalan dan kehinaan. Sekarang Anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk memilih, tak ada seorang pun yang akan merintangi Anda untuk melalui jalan yang kanan atau yang kiri. Anda dapat pergi ke manapun sesuka hati Anda. Lalu mengapa Anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa "Itu sudah takdirku?" Apa tidak lebih patut jika Anda memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa "Itulah takdirku?"

Untuk lebih jelasnya, apabila Anda mau bepergian ke suatu tempat dan di hadapan Anda ada dua jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman; sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mngerikan. Tentu saja Anda akan memilih jalan yang mulus, yang lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan dengan jalan yang visual, begitu pula dengan yang non visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun, kadangkala hawa nafsulah yang memegang peran dan menguasai akal. Padahal, sebagai seorang mukmin seyogyanya akalnyalah yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya. Jika orang menggunakan akalnya, maka akal itu -menurut pengertian sebenarnya- akan melindungi pemiliknya dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang bermanfaat dan membahagiakan.

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam perbuatan yang dilakukannya secara sadar, bukan terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan pilihannya untuk kepentingan dunia, maka diapun begitu pula dalam usahanya menuju akhirat. Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Karena Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur'an dan melalui sabda RasulNya shalallahu 'alaihi wassalam, maka jalan menuju akhirat tentu saja lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk kepentingan dunia.

Namun, kenyataannya, manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya tapi meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji Allah, dan Allah tidak akan menyalahi janjiNya.

Pembaca yang budiman.

Inilah yang menjadi ketetapan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya, tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Allah. Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa kehendak Allah tidak lepas dari hikmah kebijaksanaanNya, bukan kehendak mutlak dan absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai dengan hikmah kebijaksanaanNya. Karena di antara asma Allah adalah Al-Hakim yang artinya Pemutus Yang Bijaksana, yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana dalam keputusanNya.

Allah dengan sifat hikmahNya, menentukan hidayah bagi siapa yang dikehendakiNya yang menurut pengetahuanNya menginginkan al-haq dan hatinya berada dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmahNya pula, Dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah tidak dapat menerima bila orang yang suka akan kesesatan termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk, kecuali jika Allah memperbaiki hatinya dan merubah kehendaknya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmahNya menetapkan bahwa setiap sebab berkaitan erat dengan akibatnya.

[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]
_________
Foote Note
[1]. Jabari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam
perbuatannya, tidak mempunyai kehendak dan keinginan.
[2]. Qadari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan
dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir.
Baca Selengkapnya ......
 
Copyright 2009 DADIDUNIA. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan